Hari ini jalanan di beberapa kota besar Indonesia kayak Jakarta, Surabaya, Jogja, sampai Manokwari, rame sama demo gede-gedean. Semua berawal dari keresahan rakyat soal tunjangan mewah anggota DPR yang dianggap nggak masuk akal di tengah banyak orang masih struggling sama harga kebutuhan dan susah cari kerja. Situasi makin panas setelah ada tragedi: Affan Kurniawan (21), seorang ojol, meninggal ditabrak kendaraan taktis Brimob saat lagi kerja. Video kejadiannya viral, bikin publik makin geram.
Bentrokan pun pecah, gas air mata dan water cannon ditembakkin ke massa, bahkan ada gedung yang ikut kebakar. Presiden Prabowo akhirnya angkat suara, bilang prihatin, dan janji ada penyelidikan serius. Beberapa anggota Brimob udah ditahan, tapi sopir kendaraan taktis yang nabrak Affan masih belum jelas siapa.
Di balik semua chaos ini, sebenernya kita bisa tarik napas bentar dan inget lagi sama Pancasila. Karena lima sila itu bukan cuma teks buat upacara bendera, tapi value yang relevan banget buat kejadian kayak gini.
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Tragedi ini bikin banyak orang sadar kalau empati itu penting. Rasa duka, doa, dan solidaritas nyebar di mana-mana, jadi reminder kalau kita semua punya hati nurani. Di tengah panasnya konflik, doa dari berbagai agama mengalir buat korban dan keluarganya. Ini nunjukin kalau nilai spiritual dan rasa kemanusiaan itu nggak bisa dipisahin—kita semua punya kewajiban saling mendoakan dan menjaga, bukan saling melukai.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Hak orang buat nyari nafkah dan nyuarain pendapat harus dihormati. Aparat seharusnya jadi pelindung rakyat, bukan bikin takut. Demo juga harusnya tetap damai biar nggak jatuh korban. Kejadian anak muda ojol yang kehilangan nyawanya jadi alarm keras: kemanusiaan nggak boleh dikorbankan demi kepentingan politik atau kekuasaan. Kita semua butuh cara-cara yang beradab, baik rakyat maupun aparat, biar nggak ada lagi cerita tragis kayak hari ini.
3. Persatuan Indonesia
“Persatuan Indonesia” jangan cuma jadi jargon di baliho. Demo yang rame di berbagai kota memang nunjukin keresahan kolektif, tapi juga rawan bikin bangsa terbelah kalau nggak dikelola. Kita butuh ruang dialog yang bener-bener terbuka, bukan cuma janji-janji di podium. Persatuan harus dibangun dari keberanian pemerintah buat denger suara rakyat, dan kesadaran rakyat buat tetap jaga damai meski lagi marah.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Politik idealnya jalan lewat musyawarah, bukan adu kuasa atau adu kekerasan. Kalau DPR lebih sibuk mikirin tunjangan ketimbang masalah rakyat, wajar kalau rakyat turun ke jalan. Tapi jangan berhenti di marah-marah aja—harus ada channel dialog nyata, di mana aspirasi rakyat masuk ke meja perwakilan dan beneran ditindaklanjuti. Inilah momen buat DPR dan pemerintah balik ke akar: melayani, bukan dilayani.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ini inti dari semua keributan hari ini. Selama masih ada jurang lebar antara gaya hidup pejabat yang penuh privilege dan rakyat kecil yang tiap hari mikirin makan, keadilan sosial cuma jadi slogan kosong. Tragedi ini jadi wake up call: keadilan sosial nggak boleh berhenti di teks Pancasila, tapi harus hadir nyata di kebijakan, gaji, pendidikan, kesehatan, sampai harga kebutuhan pokok yang bisa dijangkau semua orang.
Tragedi ini jangan cuma lewat jadi trending sesaat. Saatnya kita hidupin lagi Pancasila dalam kehidupan nyata—bukan sekadar hafalan tiap Senin. Mulai dari peduli sama sekitar, berani speak up, sampai jagain persatuan di tengah perbedaan. Suara kita penting, aksi kecil kita berarti. Yuk, terus nyuarain kebenaran dengan cara damai, adil, dan bermartabat. Karena Indonesia cuma bisa maju kalau Pancasila bener-bener kita jalani bareng-bareng











