Hari ini jalanan Indonesia lagi-lagi penuh teriakan. Ribuan orang turun ke jalan: mahasiswa, buruh, ojol, sampai masyarakat biasa. Semua marah soal tunjangan DPR yang katanya bisa bikin hidup nyaman banget, sementara rakyat masih mikirin harga beras tiap hari.
Tapi apa yang terjadi di lapangan? Rakyat teriak, aparat pasang barikade. Gas air mata, water cannon, bentrokan. Yang di jalan panas-panasan, kejar-kejaran, dan bahkan ada korban jiwa. Dan di sisi lain, siapa yang adem ayem? Ya, pejabat. Duduk di kursi empuk, gaji jalan terus, tunjangan tetap cair. Yang ribut rakyat vs aparat, yang tetap selamat? Mereka.
Ironis banget, rakyat turun ke jalan demi suara keadilan, aparat disuruh jadi tameng, sementara pejabat tinggal nonton dari balkon kekuasaan. Rakyat capek, aparat capek, tapi pejabat tetap selamat.
Kalau dipikir-pikir, demo ini mirip game yang unfair: player-nya rakyat dan aparat yang saling tabrakan, tapi yang nggak pernah kena damage justru pejabat. Ending-nya? Rakyat kehilangan tenaga (bahkan nyawa), aparat dapat cap buruk, pejabat tetap selamat dengan segala privilege.
Jangan biarin demo hari ini cuma jadi tontonan dan headline. Saatnya kita sama-sama sadar: kalau rakyat terus di bawah dan aparat cuma jadi alat, yang selalu selamat ya pejabat. Yuk, terus bersuara dengan cara damai, kreatif, dan konsisten. Karena perubahan cuma bisa datang kalau kita sadar game ini nggak boleh lagi dimenangkan satu pihak aja.











